Kamis, 19 April 2012

ULUMUL HADITS

BAB I
PENDAHULUAN
            Dalam mempelajari tentang hadits Nabi Muhammad SAW, kita harus mengetahui terlebih dahulu tentang ilmu-ilmu hadits atau ulumul hadits, dan dalam mempelajari ulumul hadits, kita harus tahu arti dari ulumul hadits itu sendiri, kita juga harus tahu tentang sejarah perkembangan ulumul hadits dan cabang-cabangnya.
            Dalam makalah ini, kami akan membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan ulumul hadits dan perkembangannya serta cabang-cabangnya. Ulumul hadits merupakan sebuah pengantar untuk mempelajari, memahami dan menyelami studi hadits yang sangat kompleks. Dengan penyelaman kaidah-kaidah yang ada dalam ulumul hadits, maka hadits akan dapat dikaji terlebih dahulu secara ilmiah dan baru dilaksanakan pemahamannya dengan baik sesuai dengan aturan yang berlaku dalam kajian studi hadits.
            Dengan mempelajari ulumul hadits, kita dapat memahami tentang pengertian, perkembangan dan cabang-cabang hadits dalam ulumul hadits, serta dapat menerapkannya dalam mempelajari studi hadits.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian dan Ruang Lingkup Ulumul Hadits
            Istilah ulumul hadits berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata, yaitu  ulum dan al-hadits. Kata ulum merupakan jamak dari kata ilm yang berarti gambaran sesuatu tentang akal. Sedangkan al-hadits secara etimologis berarti sesuatu yang baru, kabar atau berita dari seseorang.
            Menurut istilah, ulumul hadits menurut  ulama hadits adalah sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw baik dari sisi perkataan perbuatan, ketetapan, sifat diri atau sifat pribadi. Namun sebagian ulama juga mendefinisikan bahwa hadits tidak hanya disandarkan kepada Nabi Muhammad saw., tetapi juga kepada sahabat dan para tabi’in. Dalam buku Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, Hasbi As-Shiddieqy menjelaskan bahwa ulumul hadits adalah ilmu yang berpautan dengan hadits, banyak ragam macamnya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ulumul hadits adalah ilmu yang berkaitan dengan masalah hadits dengan berbagai aspeknya.
            Ruang lingkup kajian ulumul hadits menyangkut dua bagian, yaitu : ilmu hadits riwayat dan ilmu hadits dirayah. Ilmu hadits riwayat adalah suatu ilmu yang membahas tentang segala sesuatu yang datang dari nabi Muhammad saw baik dari sisi perkataan, perbuatan maupun ketetapannya ataupun yang lainnya.
            Obyek pembahasan Ilmu hadits riwayat adalah pribadi nabi Muhammad saw dari sisi perkataan, perbuatan maupun ketetapan dan sifat-sifat lainnya. Tujuan pembahasan ilmu hadits riwayat adalah untuk mempelajari hadits dari sisi hubungannya dengan pribadi nabi Muhammad saw untuk memahami dan mengamalkan ajaran-ajarannya guna memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
            Ulama hadits yang membahas hadits dalam perspektif ilmu riwayat ini adalah Ibn Syihab al-Zuhri. Beliau menghimpun hadits atas interupsi Umar Ibn Abdul Aziz.
            Ilmu hadits dirayat adalah sekumpulan dari kaidah-kaidah dan masalah-masalah yang di dalamnya dapat diketahui keadaan riwayat dan periwayat dari sisi diterima atau ditolak. Periwayat adalah seseorang yang menyalin hadits sekaligus dengan sanadnya baik dia itu seorang laki-laki atau perempuan dan yang diriwayatkan tersebut disandarkan kepada Nabi Muhammad saw atau kepada selainnya, seperti sahabat dan tabi’in.
            Obyek kajian ilmu hadits dirayat adalah sanad, rawi dan matan hadits. Tujuan dari mempelajari ilmu hadits dirayat adalah untuk mengetahui dan menetapkan diterima atau ditolaknya suatu hadits. Ilmu hadits dirayah merupakan neraca bagi ilmu hadits riwayat. Didalam ilmu hadits dirayat merupakan kajian historis analis atas segala perbuatan dan perkataan Nabi Muhammad saw serta ketetapannya.
            Pembahasan ilmu dirayat sudah dilaksanakan sejak abad ke-2 H. Ilmu hadits dirayat menjadi suatu disiplin ilmu tersendiri sejak masa penyusunan kitab induk ulumul hadits yakni pada pertengahan abad ke-4 H dan berakhir pada abad ke-7 H.
B.     Sejarah Perkembangan Ulumul Hadits
            Perkembangan ilmu hadits, antara lain:
1.      Tahap pertama adalah tahap kelahiran ulumul hadits yang terjadi pada masa sahabat sampai penghujung abad pertama hijrah. Dalam meriwayatkan hadits, sahabat dan para penerusnya mencegah dan mengatasi pemalsuan hadits Nabi Muhammad saw. Pada tahap ini sudah muncul sejumlah cabang ulumul hadits seperti hadits marfu’, mauquf, maqtu’, dsb.
2.      Tahap kedua adalah tahap penyempurnaan. Cabang-cabang ulumul hadits pada tahap ini telah berdiri sendiri. Tahap ini mulai abad kedua sampai awal abad ketiga hijrah.
3.      Tahap ketiga adalah tahap pembukuan ulumul hadits secara terpisah yang berlangsung dari abad ke-3 sampai pertengahan abad ke-4 hijrah. Masa ini merupakan masa keemasan karena sunnah dan ilmu-ilmunya sudah di bukukan.
4.      Tahap keempat adalah tahap penyusunan kitab-kitab induk ulumul hadits dan penyebarannya (pertengahan abad ke-4 sampai abad ke-7 hijrah).
5.      Tahap kelima adalah tahap kematangan dan kesempurnaan pembukuan ulumul hadits pada abad ke-7 sampai abad ke-10 hijrah.
6.      Masa kebekuan dan kejemuan pada abad ke-10 sampai awal abad ke-14 hijrah.
7.      Tahap kebangkitan kedua pada permulaan abad ke-14 hijrah.

C.    Cabang-Cabang Ulumul Hadits
Cabang-cabang pokok dari ilmu hadits
1.      Ilmu rijalil hadits
      Ilmu rijalil hadits adalah ilmu yang membahaskan para perawi hadits, baik dari sahabat, dari tabi’in, maupun dari perangkatan-perangkatan sesudahnya. Dengan ilmu ini kita dapat mengetahui keadaan para perawi yang menerima hadits dari Rasulullah dan keadaan para perawi yang menerima hadits dari sahabat dan seterusnya. Di dalam ilmu ini diterangkan sejarah ringkas dari riwayat hidup para perawi, madzhab yang dipegangi oleh para perawi dan keadaan-keadaan para perawi itu ketika menerima hadits.
2.      Ilmu jarhi wat ta’dil
      Ilmu jarhi wat ta’dil adalah ilmu yang menerangkan tentang hal catatan-catatan yang dihadapkan kepada para perawi dan tentang penta’dilannya (memandang adil para perawi) dengan memakai kata-kata yang khusus dan tentang martabat-martabat kata-kata itu.
3.      Fannul Mubhamat
      Fannul Mubhamat adalah ilmu yang dengannya diketahui nama orang-orang yang tidak disebut namanya di dalam matan atau di dalam sanad.
4.      Ilmu tashhif wat tahrif
      Ilmu tashif wat tahrif adalah ilmu yang menerangkan hadits-hadits yang sudah diubah titiknya (yang dinamai mushahhaf), dan bentuknya yang dinamai adalah muharraf.
5.      Ilmu ‘ilalil hadits
      Ilmu ‘ilalil hadits adalah ilmu yang menerangkan sebab-sebab yang tersembunyi, tidak nyata, yang dapat mencatatkan hadits.
6.      Ilmu gharibil hadits
      Ilmu gharibil hadits adalah ilmu yang menerangkan makna kalimat yang terdapat dalam matan hadits yang sukar diketahui maknanya dan yang kurang terpakai oleh umum.
7.      ‘ilmun nasikh wal mansukh
      ‘ilmun nasikh wal mansukh adalah ilmu yang menerangkan hadits-hadits yang sudah di mansukhkan dan yang di nasikhkannya.
8.      Ilmu asbabi wurudil hadits
      Ilmu asbabi wurudil hadits adalah ilmu yang menerangkan sebab-sebab Nabi menuturkan sabdanya dan masa-masanya Nabi menuturkan itu.
9.      Ilmu talfieqiel hadits
      Ilmu talfieqiel hadits adalah ilmu yang membahas tentang cara mengumpulkan antara hadits-hadits yang berlawanan lahirnya.
10.  Ilmu mushthalah ahli hadits
      Ilmu musthalah ahli hadits adalah ilmu yang menerangkan pengertian-pengertian (istilah-istilah) yang dipakai oleh ahli-ahli hadits.
BAB III
KESIMPULAN
     
            Dari pembahasan yang tersebut di dalam bab II dapat disimpulkan bahwa ulumul hadits adalah ilmu yang berkaitan dengan masalah hadits dengan berbagai aspeknya. Ruang lingkup kajian ulumul hadits menyangkut dua bagian, yaitu : ilmu hadits riwayat dan ilmu hadits dirayah. Ilmu hadits riwayat adalah suatu ilmu yang membahas tentang segala sesuatu yang datang dari nabi Muhammad saw baik dari sisi perkataan, perbuatan maupun ketetapannya ataupun yang lainnya. Ilmu hadits dirayat adalah sekumpulan dari kaidah-kaidah dan masalah-masalah yang di dalamnya dapat diketahui keadaan riwayat dan periwayat dari sisi diterima atau ditolak. Ulumul hadits dalam perkembangannya terbagi dalam tujuh tahap. Ulumul hadits terbagi atas sepuluh cabang ilmu.

Daftar Pustaka
Ash-Shiddieqy, Hasbi,.T.M.1977.Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits.Jakarta:Bulan Bintang.
Octoberrinsyah, dkk.2005.Al-Hadis.Yogyakarta: Pokja Akademik.

1 komentar: